Berikut, Perbedaan dari Sikap Optimisme dan Toxic Positivity yang Harus Diketahui
Bagi anda yang sering menggunakan media sosial secara aktif setiap harinya, mungkin anda sering melihat beragam jenis unggahan konten yang mengajak semua orang untuk selalu bersikap positif, yang salah satunya yakni bersikap optimisme. Sikap optimis memang bermanfaat bagi kesehatan semua orang. Akan tetapi, tahukah anda kalau sikap optimisme tanpa rasa empati bisa berubah menjadi toxic positivity?
Toxic positivity tidak selalu muncul di media sosial saja. Hal tersebut dapat terlihat ketika anda sedang berkeluh kesah kepada teman, sahabat, dan kerabat terdekat anda. Yang pada awalnya, mungkin akan terlihat baik, namun hal ini akan malah menimbulkan emosi negatif pada anda yang menerimanya. Hal inilah yang disebut dengan toxic positivity. Dan, lalu bagaimana cara membedakan toxic positiviy dan sikap optimisme.?
Berikut, Perbedaan dari Sikap Optimisme dan Toxic Positivity
Apa Arti dari Toxic Positivity
Toxic positivity ialah salah satu pola pikir yang dimana seseorang memaksa dirinya untuk mempertahankan pola pikir yang positif, dan tidak peduli seburuk apapun situasinya saat itu. Ketika suatu pola pikir disamaratakan ke semua jenis situasi dan menolak adanya perasaan negatif yang ada.
Termasuk perasaan sedih, kecewa, takut, marah, menyelahkan diri, dan bahkan overthinking. Seseorang itu akan terus berusaha supaya dia tidak merasakan perasaan negatif tersebut, sampai di titik terendah dan dia merasa gagal dan malu ketika perasaan negatif tadi hadir dalam pikirannya. Yang padahal justru perasaan seperti itulah yang menjadikan kita sebagai manusia. Kita lebih bisa bersimpati pada orang lain ketika kita pernah berada di situasi yang tidak menyenangkan dan mengenakkan.
Dan, yang paling tidak kita akan mengeluarkan sebuah kata-kata menyakitkan bagi lawan bicara ketika dia tidak sedang dalam kondisi situasi yang baik, sebab kita tidak tahu betapa tidak menyenangkannya berada di kondisi tersebut. Di sisi lain itu juga, ada yang disebut dengan healthy positivity ataupun genuine optimism.
Healthy positivity ialah strategi berpikir positif serta membangun kebiasaan yang positif untuk mengatasi situasi yang tidak baik tanpa berlari dari emosi negatif itu sendiri. Pola pikir positif bukan berarti mengabaikan dari aspek negatif yang turut hadir, tetapi justru memberi ruang bagi diri sendiri untuk memproses perasaan tersebut tanpa membiarkannya mengendalikan aspek lain dalam hidup kita. Tanpa pernah mengalami emosi dari negatif, kita hanya akan menjadi manusia yang tidak berperasaan.
Di sisi lain ada juga, tanda-tanda toxic positivity diantarannya ialah :
1. Merendahkan orang lain ketika mereka menunjukkan perasaan sedih ataupun kecewa.
2. Menyembunyikan perasaan anda hanya supaya anda tidak dipandang lemah oleh orang lain.
3. Daripada menjadi pendengar yang baik untuk orang lain, anda lebih memilih untuk menyakiti perasaannya dengan kata-kata. Contohnya seperti ' Orang lain pasti memiliki masalah yang lebih besar, dari pada masalah anda dan mestinya anda lebih bersyukur'.
4. Anda cenderung lari dari masalah yang ada ketimbang menyelesaikan masalahnya, hanya supaya anda tidak perlu merasakan emosi negatif.
5. Membohongi diri sendiri dengan bersikap seolah anda selalu bahagia dan tidak punya masalah apa-apa. Hal tersebut pasti mustahil terjadi, sebab manusia menemui banyak masalah dalam hidupnya dan mestinya ada satu titik dimana dia bahkan tidak akan sanggup memasang wajah yang bahagia dan terlihat tidak apa-apa.
6. Selalu bersalah ketika mempunyai perasaan yang negatif seperti misalnya, kecewa, overthingking, marah, takut, rendah diri, dan perasaan negatif lainnya.
Seseorang yang tanpa sadar mempunyai toxic positivity sering merasa kesulitan untuk benar-benar merasakan dan memahami apa yang ada dalam pikiran mereka. Dan seolah-olah menganggap masalah seolah-olah tidak ada, hanya akan membiarkannya menepuk pundak anda di saat-saat yang paling tidak anda inginkan.
Menumpuk beberapa perasaan negatif hanya akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja dengan sentilan kecil yang akan berpotensi merusak banyak hal yang sudah anda bangun, jaga, dan kembangkan. Begitu banyak orang yang salah paham dengan perihal toxic positivity, banyak yang menganggap diri sendiri menjadi individu yang tahan banting dalam segala hal.
Menjadi tahan banting bukannya mengabaikan segala jenis emosi yang ada, melainkan menjadi seseorang yang mampu menerima dan memproses perasaan negatif sehingga anda dapat mengambil langkah pelajaran dari apa yang anda rasakan selama ini. Dengan begitu, anda dapat memahami dan paham mekanisme dari mengatasi hal seperti apa yang harus anda terapkan bahkan kembangkan ketika menghadapi masalah yang serupa di kemudian hari nantinya.
Demikian, perbedaan dari sikap optimisme dan toxic positivity yang harus diketahui, kedua sikap tersebut ialah dua hal yang berbeda. Sikap optimisme bermanfaat agar anda melihat pengalaman hidup dari sisi yang positif, tetapi tidak mengabaikan juga perasaan dari sisi emosi negatif. Dan, sedangkan toxic positivity ialah sikap yang membuat anda perlu membuang semua perasaan buruk yang anda. Semoga Bermanfaat.

Post a Comment for "Berikut, Perbedaan dari Sikap Optimisme dan Toxic Positivity yang Harus Diketahui"
Post a Comment